Fokus utama pembahasan adalah soal istithaah kesehatan jamaah. Pemerintah Arab Saudi akan melakukan pemeriksaan acak di bandara, hotel, hingga area Masyair pada musim haji 2026 mendatang.
Jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan ditolak atau dipulangkan, sementara penyelenggara yang melanggar akan dikenai sanksi tegas.
“Haji hanya bagi yang mampu. Kemampuan itu bukan hanya finansial, tapi juga kesehatan. Kami berharap Indonesia benar-benar memastikan jamaah yang berangkat dalam kondisi fit,” tegas Tawfiq Al-Rabiah.
Selain itu, pemerintah Saudi juga menegaskan bahwa penyembelihan dam hanya boleh dilakukan secara resmi melalui lembaga Adahi di bawah kendali pemerintah. Setiap praktik di luar sistem tersebut akan dianggap tidak sah dan melanggar aturan otoritas Saudi.
Pertemuan ditutup dengan penegasan kedua menteri soal pentingnya tata kelola haji yang profesional, sehat, dan berorientasi pada jemaah.
Kemenhaj RI menegaskan kolaborasi erat dengan Arab Saudi ini bukan hanya soal efisiensi, melainkan untuk memastikan seluruh jemaah berangkat dalam kondisi fisik dan mental terbaik.
“Kami sepakat dengan Menteri Tawfiq untuk terus memperkuat koordinasi demi memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji. Dengan izin Allah, kerja sama ini akan membawa kebaikan besar bagi umat,” ujar Irfan Yusuf. (*)

