Dukungan ayahnya yang tetap bekerja keras sebagai kuli bangunan menjadi penyemangat utama di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Sudaryo menyatakan keyakinannya terhadap proses rekrutmen Polri yang bersih, transparan, akuntabel, dan humanis. Ia mengikuti seluruh tahapan seleksi anaknya dengan penuh harap, meski harus berjuang melawan segala keterbatasan.
“Saya mengikuti proses anak saya dari awal sampai akhir. Walaupun dengan segala keterbatasan, saya yakin proses rekrutmen ini benar-benar asli dan murni,” tutur Sudaryo.
Adnan sempat merasa minder karena latar belakang keluarganya sebagai anak buruh harian. Namun, motivasi dari para pimpinan Polri menjadi titik balik penting dalam perjalanannya.
Saat seleksi, Komjen Pol. Syahardiantono (saat itu Kadiv Propam Polri) dan Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo (saat itu As SDM Kapolri) memberikan semangat agar Adnan tidak pernah rendah diri.
Adnan yang hobi bermain bola voli pun menunjukkan kemampuannya secara maksimal.
Menurut Adnan, dukungan tersebut semakin meyakinkannya bahwa latar belakang sosial dan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih mimpi menjadi perwira Polri. Kisah suksesnya menjadi inspirasi bagi banyak pemuda Indonesia.






