KITAINDONESIASATU.COM-Tanaman padi yang tersebar di 12 kecamatan Kabupaten Pandeglang itu terendam air selama lima hari lebih. Lahan seluas 4.340,8 hektare terancam puso akibat banjir.
Sawah-sawah yang terdendam tersebut berada di Kecamatan CIkeusik, Panimbang, Sobang, Munjul, Angsana, Sindangresmi, Saketi, Bojong, Cisata, Pagelaran, Patia, dan Sukaresmi. Padahal 12 kecamatan ini masuk dalam daerah lumbung padi Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Nasir, mengatakan, berdasarkan laporan POPT (Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan ) terdapat persawahan di 12 kecamatan terdampak bencana banjir.
“Persawahan padi itu ada yang berusia 1-7 hari, ada juga persemaian mulai 10-12 hari. Ini tentu hasil laporan tersebut kurang lebih sekitar 4340,8 hektare yang terdampak banjir,” kata Nasir, kemarin.
Banjir diakibatkan curah hujan tinggi yang menyebabkan meluapnya sejumlah aliran sungai. Banjir juga merendam permukiman. “Tanaman padi seluas 4.340,8 hektare itu kemunginan akan busuk dan rusak ketika terendam banjir dalam kurun waktu 5-6 hari,” ungkap nasir.
Tanaman padi, lanjut Nasir, berpotensi busuk dan gagal panen karena banjir merendam wilayah Pandeglang kurang lebih selama lima hari lebih, sejak Senin, 2 Desember 2024.
“Kita berupaya cepat, bagaimana kalau sudah surut untuk menanam kembali. Dan upaya yang akan kami lakukan dan sudah melaporkan ke Pemerintah Pusat,” kata Nasir.
Nasir meminta ada bantuan benih untuk percepatan tanam. “Kita tahu bahwa bulan Desember ini sebenarnya target Pandeglang, luas tambah tanam padi kurang lebih 21.000 hektare. Tapi, dengan kondisi 12 kecamatan ini, sepertinya mengalami perlambatan,” katanya.
Nasir berharap Pemerintah Pusat turut membantu menangani permasalahan banjir di Kabupaten Pandeglang yang hampir terjadi setiap tahun, khususnya di daerah lumbung padi. “Salah satu upaya mengendalikan banjir perlu dilakukan normalisasi sungai. Salah satunya normalisasi Sungai Cilatak yang berada di Kecamatan Panimbang,” katanya.
Kondisi Sungai Cilatak mengalami pendangkalan. Sehingga, dianggap menjadi biang kerok banjir. “Karena selain mengalami pendangkalan, juga sangat sempit. Ketika hujan sedikit saja langsung meluap,” katanya.
Selain Sungai Cilatak, perlu juga normalisasi Sungai Ciliman dan Sungai Cilemer. “Sebenarnya yang ingin kami sampaikan, kami menginginkan pembuatan bendungan atau embung yang besar,” katanya.
Tidak adanya sebuah waduk ini menimbulkan kerugian besar bagi para petani. “Tinggal dihitung saja, misal 5.000 hektare, kali saja masing-masing 7 ton per hektare dikalikan kali Rp 6.000 (harga) gabah per kilo, maka mencapai ratusan miliar (Rp 210.070.000.000),” ujar Nasir.

