KITAINDONESIASATU.COM – Paus Leo XIV angkat suara lantang soal krisis kemanusiaan di Gaza. Dari Vatikan, ia mendesak Israel segera menghentikan apa yang disebutnya sebagai hukuman kolektif terhadap warga sipil Palestina. Ribuan orang yang hadir pun memberikan tepuk tangan meriah saat Paus menyerukan gencatan senjata permanen, pembukaan akses bantuan kemanusiaan, dan penghormatan penuh terhadap hukum internasional.
Situasi di Gaza kian memprihatinkan. Dalam 24 jam terakhir, 10 warga Palestina, termasuk dua anak tewas akibat kelaparan. Total korban kelaparan kini sudah menembus 313 jiwa sejak perang dimulai, di antaranya 119 anak-anak. Save the Children mengingatkan kondisi anak-anak Gaza yang kini begitu lemah, bahkan tak lagi mampu menangis.
Sementara itu, serangan Israel belum juga berhenti. Tank-tank masuk ke Gaza City, rumah warga hancur, dan pengungsian massal terus terjadi. Dalam sehari terakhir, sedikitnya 76 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat serangan udara dan darat.
Militer Israel mengklaim berhasil melumpuhkan infrastruktur Hamas dan menewaskan Mahmoud al-Aswad, kepala intelijen milisi Hamas di wilayah barat Gaza. Namun, pemindahan massal warga yang diperintahkan Israel disebut ilegal oleh hukum internasional, bahkan pemimpin gereja lokal menyebut relokasi ini bisa menjadi “hukuman mati” bagi warga yang sudah lemah karena kekurangan gizi.
Di sisi diplomasi, proposal gencatan senjata yang didukung AS dan disetujui Hamas justru belum direspons Israel. Qatar mengecam keras, menyebut Israel memang tak ingin ada kesepakatan damai.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump berencana memimpin rapat khusus di Gedung Putih untuk membahas masa depan Gaza pasca-perang. (Sumber: The Guardian)


