Dalam penelitian pada 2015, para peneliti menguji cairan vape beraroma pada sel paru-paru manusia dan tikus. Hasilnya menunjukkan beberapa efek merugikan, seperti toksisitas sel, stres oksidatif, dan peradangan.
Namun, penelitian laboratorium semacam ini tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan besarnya risiko pada manusia yang menggunakan vape dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian lain pada 2018 mengamati 10 orang yang sebelumnya tidak merokok. Fungsi paru-paru mereka diperiksa setelah menggunakan cairan vape yang mengandung nikotin maupun yang tidak mengandung nikotin.
Hasilnya menunjukkan adanya gangguan sementara pada sejumlah indikator fungsi paru-paru setelah penggunaan vape. Namun, jumlah peserta yang sangat kecil membuat hasil penelitian tersebut belum dapat digeneralisasi kepada seluruh pengguna.
Laporan National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine pada 2018 juga menemukan bukti bahwa paparan rokok elektrik dapat menimbulkan efek merugikan pada sistem pernapasan.
3. Mengapa Risiko Jangka Panjang Belum Sepenuhnya Diketahui?
Salah satu tantangan dalam penelitian vape adalah masa penggunaannya yang relatif lebih singkat dibandingkan sejarah penggunaan rokok konvensional.




