Lifestyle

Tradisi Grebeg Maulud, Perpaduan Dakwah Islam dan Budaya Jawa di Keraton Yogyakarta

×

Tradisi Grebeg Maulud, Perpaduan Dakwah Islam dan Budaya Jawa di Keraton Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Tradisi Grebeg Maulud, Perpaduan Dakwah Islam dan Budaya Jawa di Keraton Yogyakarta
Tradisi Grebeg Maulud, Perpaduan Dakwah Islam dan Budaya Jawa di Keraton Yogyakarta

KITAINDONESIASATU.COM – Grebeg Maulud merupakan tradisi puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Yogyakarta yang telah berlangsung sejak masa Sultan Hamengkubuwono I. Mengutip laman resmi Taman Budaya Yogyakarta, tradisi ini berakar dari dakwah Sunan Kalijaga di abad ke-15 di Demak, lalu diadopsi Kerajaan Mataram dan diperkenalkan di Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono I.

Tradisi ini menjadi wujud peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggabungkan nilai Islam dan budaya Jawa. Grebeg Maulud ditandai dengan prosesi gunungan hasil bumi dan acara Sekaten, sebagai simbol kemakmuran serta ungkapan syukur raja kepada rakyatnya.

Acara berlangsung setiap 12 Mulud (Rabiul Awal) sejak pagi hari, diawali parade bregada atau pasukan pengawal istana dengan seragam kebesaran masing-masing. Rangkaian dilanjutkan pada pukul 10.00 dengan keluarnya tujuh gunungan dari Keraton Yogyakarta, didahului pasukan Bugis dan Surokarso.

Saat gunungan menyeberangi alun-alun utara, suasana dimeriahkan dengan tembakan salvo serta sorakan pengawal keraton. Dari prosesi inilah muncul istilah Grebeg. Lima gunungan kemudian dibawa ke Masjid Gedhe Kauman, sedangkan dua lainnya menuju Kepatihan dan Pura Pakualaman, di mana doa dipanjatkan sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *