Para peneliti mengukur kadar vitamin D dalam darah peserta, dan sekitar 16 tahun kemudian, mereka melakukan pemindaian otak untuk melihat tingkat akumulasi protein beta amiloid dan tau.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang memiliki kadar vitamin D lebih tinggi pada awal penelitian cenderung memiliki tingkat penumpukan protein tau yang lebih rendah di otak setelah 16 tahun berlalu.
Namun, tidak ditemukan hubungan yang serupa antara kadar vitamin D dan tingkat protein beta amiloid. Dalam penelitian ini, kadar vitamin D dianggap cukup jika mencapai lebih dari 30 nanogram per mililiter.
Data juga menunjukkan bahwa sebanyak 34 persen peserta memiliki kadar vitamin D yang rendah, sementara hanya 5 persen yang rutin mengonsumsi suplemen vitamin D.
Menurut ketua peneliti, Dr. Martin David Mulligan, usia paruh baya merupakan masa yang sangat penting untuk melakukan langkah pencegahan karena pada tahap ini perubahan yang berkaitan dengan demensia sering kali baru mulai terjadi di otak dan belum menimbulkan gejala yang terlihat.
Mempertahankan kadar vitamin D yang cukup pada masa ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko kerusakan otak di kemudian hari.
Meskipun temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara vitamin D dan kesehatan otak, para peneliti menekankan bahwa penelitian ini hanya membuktikan adanya hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Artinya, belum dapat dipastikan sepenuhnya bahwa peningkatan kadar vitamin D secara langsung dapat mencegah atau mengobati demensia.


