Lifestyle

Self-Harm: Penyebab, Dampak dan Upaya Pemulihan

×

Self-Harm: Penyebab, Dampak dan Upaya Pemulihan

Sebarkan artikel ini
FotoJet 5 5
Self-harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri dengan sengaja untuk mendapatkan kepuasan pribadi

KITAINDONESIASATU.COM – Self-harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri dengan sengaja untuk mendapatkan kepuasan pribadi.

Orang yang melakukan self-harm memerlukan bantuan fisik dan mental untuk mencegah kondisi yang lebih serius atau tindakan berbahaya di masa depan.

Self-harm sering dilakukan untuk mengekspresikan amarah, meredakan perasaan negatif, atau membuktikan kemampuan menahan rasa sakit. Tindakan ini dapat dilakukan menggunakan benda tajam atau hanya dengan tangan kosong.

Keinginan untuk self-harm lebih sering terjadi pada orang yang memiliki gangguan mental seperti depresi, mengalami pelecehan, gangguan kepribadian, atau penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.

Contoh tindakan self-harm termasuk melukai tubuh dengan benda tajam, memukul diri sendiri, membakar kulit dengan rokok, atau mencabut rambut.

Walaupun tidak selalu berujung pada percobaan bunuh diri, individu yang melakukan self-harm berisiko melakukannya di kemudian hari jika tidak mendapatkan pertolongan.

Penanganan self-harm dimulai dengan perawatan oleh profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater. Terapi yang diberikan biasanya disesuaikan dengan kondisi mental pasien, seperti depresi atau kecemasan. Penanganan awal sering kali melibatkan perawatan fisik cedera, diikuti dengan terapi jangka panjang untuk mengelola kondisi mental dan stres.

Terapi yang direkomendasikan meliputi terapi perilaku kognitif, yang membantu pasien memahami dan mengubah perilaku negatif; terapi mindfulness, yang meningkatkan kesadaran diri terhadap pikiran dan perasaan; serta terapi interpersonal, yang berfokus pada hubungan sosial pasien dan bagaimana itu mempengaruhi kesehatan mentalnya. Jika diperlukan, psikiater mungkin juga meresepkan obat antidepresan.

Selain terapi, pasien juga dianjurkan untuk menulis jurnal, menggunakan teknik coping, mengenali pemicu self-harm, menjalin hubungan yang mendukung, menghindari alkohol dan obat-obatan, serta melakukan aktivitas positif seperti olahraga atau seni.
Dengan terapi yang tepat, pasien dapat belajar untuk mencintai diri sendiri dan mengurangi perilaku self-harm di masa depan.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *