Lifestyle

Limbah Tinja vs Limbah Tulang Hewan, Teknologi Filtrasi Ramah Lingkungan

×

Limbah Tinja vs Limbah Tulang Hewan, Teknologi Filtrasi Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
FotoJet 2 5
Limbah tulang hewan

KITAINDONESIASATU.COM – Sebuah inovasi sistem filtrasi air limbah muncul dari kampus UGM.

Mahasiswa di kampus itu telah menciptakan inovasi pemanfaatan limbah tulang dan gigi hewan untuk menyaring air limbah, menjadikannya jernih dan layak digunakan sebagai irigasi sawah.

Inovasi ini terinspirasi dari masalah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Di kota itu ada permukiman padat yang berada di dekat lahan pertanian.

Air limbah, terutama yang berasal dari tinja, sering kali mencemari sawah di area tersebut.

Dengan memanfaatkan limbah gigi dan tulang yang mengandung senyawa hidroksiapatit, air limbah disulap menjadi jernih yang dapat digunakan untuk irigasi sawah.

Selain mengurangi limbah, teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas air dan hasil pertanian.

Lalu bagaimana cara kerja tulang dan gigi hewan ini bisa menjenernihkan air limbah bertinja?

Tulang-tulang hewan, terutama gigi dan tulang, mengandung senyawa yang disebut hidroksiapatit (Ca₅(PO₄)₃(OH)).

Hidroksiapatit adalah komponen utama dalam tulang dan gigi, dan memiliki sifat kimiawi yang memungkinkan penyerapan ion dan molekul tertentu dari air, menjadikannya bahan yang efektif untuk menyaring dan menjernihkan air limbah.

Berikut adalah cara kerja hidroksiapatit dalam tulang untuk menjernihkan air limbah:

Adsorpsi Kontaminan:
Hidroksiapatit memiliki struktur pori yang memungkinkan penyerapan atau adsorpsi ion logam berat seperti timbal, kadmium, dan zat berbahaya lainnya yang sering ditemukan dalam air limbah. Molekul-molekul ini menempel pada permukaan hidroksiapatit, sehingga air yang melewatinya menjadi lebih bersih.

Penukaran Ion:
Hidroksiapatit dapat melakukan penukaran ion, yaitu menggantikan ion berbahaya dalam air dengan ion kalsium atau fosfat yang lebih aman. Misalnya, ion logam berat seperti merkuri dan kadmium dapat digantikan oleh ion kalsium yang terdapat pada hidroksiapatit, sehingga kontaminan tersebut terperangkap di dalam filtrat dan tidak larut dalam air.

Pengikatan Zat Organik:
Selain logam berat, hidroksiapatit juga dapat mengikat bahan organik atau mikroorganisme dalam air limbah, seperti bakteri atau zat pencemar organik lainnya. Ini membuat air yang keluar dari sistem filtrasi menjadi lebih jernih dan aman.

Netralisasi pH:
Hidroksiapatit juga dapat membantu menstabilkan pH air limbah yang sering kali bersifat asam. Dengan menetralkan pH, hidroksiapatit menjadikan air lebih sesuai untuk digunakan dalam irigasi atau kegiatan lain yang memerlukan air dengan pH netral.

Proses filtrasi menggunakan hidroksiapatit dari tulang-tulang ini efektif dan murah karena bahan bakunya melimpah serta dapat diperoleh dari limbah tulang dan gigi hewan.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *