KITAINDONESIASATU.COM – Memasuki hari ke-23 bulan suci Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia kini berada di sepuluh malam terakhir, sebuah fase krusial yang dikenal sebagai masa pembebasan dari api neraka (itqun minan nar). Momentum ini dianggap sebagai periode “final” bagi para hamba untuk melipatgandakan amal ibadah sebelum Ramadan berakhir.
Berdasarkan literatur keagamaan mengenai fadhilah puasa harian, hari ke-23 memiliki keutamaan yang sangat istimewa. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada hari ini, Allah SWT menjanjikan pahala bagi orang berpuasa layaknya pahala para syuhada dan orang-orang saleh.
Keistimewaan ini menjadi motivasi kuat bagi masyarakat untuk tetap konsisten menjalankan ibadah meski kelelahan fisik mulai terasa.
Selain ibadah wajib, malam ke-23 juga menjadi salah satu malam ganjil yang sangat dinantikan karena potensi turunnya Lailatul Qadar. Masjid-masjid terpantau mulai dipadati jamaah yang melakukan iktikaf, tadarus Al-Quran, dan shalat malam.
“Sepuluh hari terakhir adalah ujian ketulusan. Pada hari ke-23 ini, kita diajak untuk tidak kendor dan justru semakin kencang dalam bersedekah serta memperbaiki diri,” ujar salah satu pemuka agama dalam ceramahnya.
Dengan semangat mengejar ampunan, hari ke-23 bukan sekadar menahan lapar, melainkan simbol ketangguhan iman menuju kemenangan yang fitri.(*)



