KITAINDONESIASATU.COM – Keputusan Willie Salim menjalani khitan di usia 24 tahun menarik perhatian publik. Bukan hanya karena dilakukan ketika sudah dewasa, tetapi juga karena momen tersebut membuka pembahasan lain yang jarang dibicarakan: apa sebenarnya manfaat khitan bagi kesehatan pria?
Willie menjalani khitan pada Kamis, 24 September 2026. Sejumlah pemberitaan menyebut kreator konten tersebut sempat merasa gugup menjelang prosedur yang umumnya lebih banyak dilakukan ketika anak-anak. Secara medis, khitan tetap dapat dilakukan pada usia dewasa karena prosedur tersebut pada dasarnya merupakan tindakan untuk mengangkat kulup yang menutupi kepala penis.
Namun, khitan bukan hanya persoalan tradisi atau usia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat adanya manfaat kesehatan tertentu dari sirkumsisi laki-laki.
Salah satu yang paling banyak diteliti adalah kaitannya dengan pencegahan HIV. WHO menyebut uji klinis menunjukkan khitan medis laki-laki dapat menurunkan risiko pria memperoleh HIV melalui hubungan heteroseksual sekitar 60 persen.
Meski demikian, angka tersebut tidak boleh dimaknai bahwa pria yang sudah dikhitan otomatis terlindungi dari HIV. WHO menempatkan khitan sebagai salah satu bagian dari kombinasi pencegahan HIV bersama metode pencegahan lainnya.
CDC juga mencatat bahwa khitan berkaitan dengan penurunan risiko HIV dan sejumlah infeksi menular seksual tertentu pada pria heteroseksual.
Dalam penjelasannya, CDC menyebut bukti dari sejumlah uji terkontrol menunjukkan penurunan risiko memperoleh HIV sekitar 50 sampai 60 persen. Penelitian juga menemukan hubungan perlindungan terhadap infeksi HPV genital berisiko tinggi dan herpes genital.
Selain aspek infeksi, khitan dapat membuat perawatan dan kebersihan area genital menjadi lebih sederhana karena kulup sudah diangkat. Pada kondisi medis tertentu, sirkumsisi juga dapat menjadi bagian dari penanganan masalah pada kulup, meski keputusan tindakan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, pengalaman Willie Salim dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan khitan dari perspektif yang lebih luas. Khitan pada usia dewasa bukan sesuatu yang secara medis mustahil dilakukan, tetapi prosedurnya tetap merupakan tindakan medis yang perlu dilakukan dengan pertimbangan dan penanganan tenaga kesehatan.
Yang juga penting, manfaat khitan tidak boleh dibesar-besarkan. Sirkumsisi bukan pengganti perilaku seksual yang aman, pemeriksaan kesehatan, maupun metode pencegahan penyakit menular lainnya.
Pada akhirnya, kisah Willie Salim bukan hanya tentang seorang figur publik yang baru menjalani khitan di usia 24 tahun. Momen tersebut juga memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai sirkumsisi dapat dilihat dari berbagai sisi, mulai dari tradisi, agama, keputusan pribadi hingga kesehatan pria berdasarkan bukti medis. (*)






