Menariknya, produk susu lain, baik rendah maupun tinggi lemak, tidak menunjukkan pola hubungan serupa dengan keju dan demensia.
Temuan ini memicu perhatian karena bertolak belakang dengan saran nutrisi lama yang mendorong pembatasan lemak susu.
Selama ini, keju penuh lemak sering dianggap kurang ideal bagi kesehatan, tetapi studi ini mengisyaratkan relasi kompleks antara diet, demensia, dan keju dan demensia.
Peneliti menegaskan, hasil studi 25 tahun keju dan kesehatan otak tidak berarti keju memiliki efek perlindungan langsung.
Hubungan keju dan demensia bisa jadi mencerminkan gaya hidup lebih sehat, bukan semata-mata dampak keju penuh lemak.
Faktor pendidikan, berat badan, serta kondisi metabolik peserta turut berperan. Kelompok dengan asupan keju penuh lemak lebih tinggi umumnya memiliki profil kesehatan lebih baik, yang secara independen menurunkan risiko demensia, memperumit interpretasi keju dan demensia.





