Kondisi tersebut diketahui berperan penting dalam meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.
Para peneliti menilai lonjakan konsumsi makanan ultra-olahan beriringan dengan tingginya angka penyakit jantung global.
Mereka bahkan membandingkan situasi ini dengan sejarah tembakau, yang membutuhkan waktu lama sebelum risikonya dipahami luas.
Meski penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat, para ahli menilai bukti saat ini cukup kuat.
Dokter disarankan mulai mengedukasi masyarakat mengenai bahaya makanan ultra-olahan bagi kesehatan jantung dan otak.***



