Kesehatan

Kasus Campak di Jepang Naik Tajam, Meningkat Lebih dari Tiga Kali Lipat

×

Kasus Campak di Jepang Naik Tajam, Meningkat Lebih dari Tiga Kali Lipat

Sebarkan artikel ini
IMG 20260310 143511
Ilustrasi pasien campak dengan ruam khas pada kulit. Pakar kesehatan mengingatkan pentingnya imunisasi untuk mencegah penyebaran penyakit ini. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COMJepang mencatat lonjakan signifikan kasus campak sejak awal tahun 2026.

Berdasarkan laporan terbaru dari Institut Keamanan Kesehatan Jepang, jumlah kasus mencapai 236 sejak Januari, meningkat sekitar 3,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat 66 kasus.

Data menunjukkan peningkatan yang cukup cepat dalam penyebaran penyakit ini. Hingga awal Maret, jumlah kasus telah menyentuh angka 100, dan dalam waktu empat minggu berikutnya, jumlah tersebut kembali bertambah sebanyak 100 kasus.

Dalam periode akhir Maret hingga awal April saja, puluhan kasus baru terkonfirmasi di berbagai fasilitas kesehatan di seluruh negeri.

Penyebab dan Risiko Penyebaran Campak di Jepang

Meskipun sebelumnya telah dinyatakan bebas campak oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada 2015, kasus baru masih kerap muncul akibat infeksi yang dibawa oleh pelancong dari luar negeri. Penularan ini kemudian memicu penyebaran lokal di beberapa wilayah.

Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular melalui percikan udara. Gejalanya biasanya muncul sekitar 10 hari setelah terpapar virus, ditandai dengan demam, pilek, dan batuk. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk peradangan pada otak.

Sebagai langkah pencegahan, vaksin campak-rubella diberikan dalam dua tahap. Di Jepang, imunisasi pertama dilakukan saat anak berusia satu tahun, sementara dosis kedua diberikan sebelum memasuki usia sekolah dasar.

Dalam satu dekade terakhir, angka kasus tertinggi tercatat pada 2019 dengan ratusan kasus, sementara pada 2025 jumlahnya juga masih cukup tinggi. Lonjakan terbaru ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan setempat untuk meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *