Salah satunya adalah membantu mempercepat proses pencernaan sehingga paparan zat berbahaya di usus berkurang, yang berkontribusi menekan risiko kanker akibat kurang serat tingkatkan risiko kanker.
Selain itu, serat makanan juga berfungsi sebagai nutrisi bagi bakteri baik di usus. Proses fermentasi ini menghasilkan senyawa seperti butirat yang memiliki efek anti-inflamasi, sehingga membantu melindungi sel dari kerusakan akibat kurang serat yang berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Peran lain dari serat makanan adalah membantu mengontrol berat badan, gula darah, dan kadar insulin.
Faktor-faktor ini berkaitan erat dengan risiko kanker, sehingga pola makan kurang serat dapat memperburuk kondisi tersebut dalam jangka panjang sesuai konsep kurang serat tingkatkan risiko kanker.
Penelitian dari Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menyoroti pentingnya keseimbangan mikrobioma usus.
Ketika tubuh mengalami kurang serat, keseimbangan ini terganggu dan memicu peradangan kronis yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.
Sayangnya, kebiasaan kurang serat sering tidak disadari karena tidak menimbulkan gejala langsung.

