Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik (MRI) dan teknologi pembelajaran mesin untuk mempelajari pola penuaan otak.
Model komputer terlebih dahulu dilatih menggunakan data otak orang sehat untuk mengenali ciri penuaan normal, lalu diterapkan pada seluruh partisipan.
Kualitas tidur peserta dinilai berdasarkan lima indikator yang dilaporkan sendiri, yakni durasi tidur, insomnia, mendengkur, kantuk di siang hari, serta kecenderungan aktivitas pagi atau malam.
Berdasarkan skor tersebut, peserta dikelompokkan menjadi tidur sehat, tidur sedang, dan tidur buruk.
Peneliti utama studi ini, Abigail Duff, menjelaskan bahwa perbedaan antara usia otak dan usia kronologis meningkat sekitar enam bulan setiap kali skor kualitas tidur menurun satu poin.
Secara rata-rata, otak orang dengan kualitas tidur buruk terlihat satu tahun lebih tua dibandingkan usia sebenarnya.

