“Kenapa game tarung terbaik dunia bukan dari kita, padahal semua gerakannya dari kung fu Tiongkok?” tegasnya. Visi ini menekankan perlunya kolaborasi lintas media—film, game, dan konten interaktif—yang berbasis pada warisan budaya lokal.
Dukungan Penuh Pemerintah
Proyek ini mendapat dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Administrasi Radio dan Televisi Nasional. He Tao, perwakilan dari lembaga tersebut, menyatakan bahwa AI kini bukan sekadar alat, melainkan infrastruktur penting dalam industri media modern.
Untuk mendukung perkembangan ini, Shanghai mendirikan pusat pelatihan dan riset AI untuk perfilman, bergabung dengan kota-kota lain seperti Xi’an, Wuhan, dan Xiamen. Bahkan fasilitas render nasional di Guizhou kini mampu mempercepat pemrosesan efek visual dari 400 hari menjadi hanya 24 jam.
Menghormati Para Pelopor, Menatap Masa Depan
Acara peluncuran ini juga menjadi momen penghormatan bagi para pelaku industri kung fu legendaris seperti aktor Yu Rongguang, penulis Zhang Tan, dan produser Yuan Hong. Mereka dianggap sebagai pilar dari warisan film bela diri yang kini akan dihidupkan kembali.
“Kalau saya masih punya tenaga, semuanya akan saya curahkan untuk proyek ini,” kata Yuan Hong dengan penuh semangat.
“Kung fu bukan hanya tentang laga. Ia adalah tentang pertumbuhan, martabat, dan semangat. Dengan bantuan AI, kita bukan menghapus masa lalu, tapi memberinya nafas baru,” kata Zhang Tan.***
