Berbeda dengan shōnen klasik, My Hero Academia tak ragu menampilkan sisi gelap. Tidak semua karakter favorit berhasil bertahan hingga akhir cerita.
Pendekatan ini menunjukkan keberanian seri tersebut dalam menembus batas genre, sesuatu yang berhasil diwujudkan dengan baik oleh sang kreator, Kohei Horikoshi.
Namun, akhir manga sempat menuai kritik. Saat bab 430 berjudul My Hero Academia dirilis, banyak pembaca merasa Deku tidak mendapatkan akhir yang pantas.
Setelah mengorbankan segalanya demi mengalahkan All For One dan Shigaraki, ia justru digambarkan menjalani hidup sederhana sebagai guru, sementara rekan-rekannya tampil sebagai pahlawan papan atas.
Secara konsep, kehilangan kekuatan Deku memang selaras dengan perjalanan awalnya sebagai sosok tanpa Quirk. Meski logis secara naratif, banyak penggemar menilai pengorbanannya kurang dihargai, bahkan terkesan dilupakan oleh teman-temannya.
Kritik tersebut tampaknya didengar oleh tim produksi anime. Episode terakhir anime, yang juga mengadaptasi bab 430, menghadirkan sejumlah perubahan penting.




