Hiburan

Karhutla Kalimantan Dikaitkan dengan Film Ghost in the Cell, Ini Penjelasan dan Faktanya

×

Karhutla Kalimantan Dikaitkan dengan Film Ghost in the Cell, Ini Penjelasan dan Faktanya

Sebarkan artikel ini
Ghost in the Cell
Poster Film Ghost in the Cell.

KITAINDONESIASATU.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan pada Agustus 2026 mendadak menyeret nama film horor Ghost in the Cell karya Joko Anwar. Bukan karena film tersebut menjadi penyebab kebakaran, melainkan lantaran jalan cerita film dinilai warganet memiliki kemiripan dengan isu kerusakan hutan dan eksploitasi lingkungan yang tengah menjadi sorotan.

Film Ghost in the Cell sendiri telah lebih dulu tayang di bioskop sejak 16 April 2026. Namun, ketika kabar karhutla Kalimantan kembali ramai diperbincangkan, sejumlah warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan cerita dalam film.

Kaitan itu muncul di tengah meningkatnya aktivitas titik panas atau hotspot di Kalimantan. Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Kehutanan, pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan pergerakan hotspot yang cukup dinamis pada 17-19 Agustus 2026.

Dalam periode tersebut, tercatat 367 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, 343 titik di Kalimantan Tengah, dan 40 titik di Kalimantan Selatan. Jika digabungkan, terdapat 750 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut.

Kondisi cuaca turut menjadi perhatian. Minimnya curah hujan dan kondisi lahan yang relatif kering membuat kebakaran berpotensi bertahan lebih lama dan menyulitkan proses penanganan.

Di tengah situasi tersebut, film Ghost in the Cell kembali menjadi bahan pembicaraan. Sejumlah pengguna media sosial menilai konflik dalam film terasa “nyambung” dengan persoalan lingkungan yang terjadi di Kalimantan.

Salah satu unggahan di platform X bahkan mempertanyakan apakah kemiripan tersebut hanya kebetulan. Akun @asministratur pada 24 Agustus 2026 menuliskan pengalamannya setelah menonton film tersebut.
Ia mengaitkan sejumlah unsur cerita dengan Kalimantan, mulai dari eksploitasi hutan hingga persoalan korupsi.

Unggahan itu kemudian mendapatkan beragam respons. Sejumlah warganet mengaku merasakan kemiripan serupa, sementara lainnya menanggapi dengan komentar bernada humor mengenai sosok hantu dalam film.

Namun, penting digarisbawahi, kaitan antara film dan karhutla tersebut merupakan persepsi atau komentar warganet, bukan bukti bahwa film tersebut berhubungan dengan penyebab kebakaran hutan di Kalimantan.

Ghost in the Cell berkisah tentang sebuah penjara yang dikenal brutal dan penuh sesak. Para narapidana harus bertahan di tengah kekerasan, konflik antargeng, serta dugaan praktik korupsi di dalam lingkungan lapas.
Dua kelompok besar di penjara tersebut dipimpin Anggoro yang diperankan Abimana Aryasatya dan Bimo yang diperankan Morgan Oey.

Situasi semakin mencekam setelah Dimas, seorang jurnalis yang diperankan Endy Arfian, masuk sebagai tahanan baru. Setelah kedatangannya, serangkaian kematian misterius mulai terjadi.

Korban berjatuhan dengan cara mengenaskan. Penyelidikan kemudian mengarah pada keberadaan entitas gaib yang tidak terlihat dan memiliki target tertentu.
Entitas tersebut digambarkan memburu orang-orang dengan energi negatif paling kuat.

Yang kemudian membuat cerita film ini terasa relevan bagi sebagian warganet adalah latar belakang sang entitas. Dalam cerita, sosok gaib tersebut berasal dari Kalimantan dan menyimpan dendam setelah habitatnya rusak akibat deforestasi.

Ia kemudian datang ke penjara untuk mencari pihak yang dianggap bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan tersebut.

Dari sinilah muncul benang merah yang dianggap warganet menarik: Kalimantan, eksploitasi hutan, kerusakan lingkungan, korupsi, hingga sosok gaib yang menuntut balas.

Meski demikian, kemiripan tersebut tetap berada pada ranah cerita film dan interpretasi penonton.

Sementara karhutla di Kalimantan merupakan persoalan nyata yang penyebab dan penanganannya harus dilihat berdasarkan data serta penjelasan otoritas terkait. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *