KITAINDONESIASATU.COM – Gendang Asmat merupakan salah satu alat musik tradisional yang sarat makna dan sejarah, yang konon dibuat dengan cara yang diwariskan dari tokoh mitologi Asmat bernama Fumer-ipits.
Tokoh ini diyakini sebagai sosok yang mampu membangkitkan kembali orang Asmat dari kematian, serta dianggap sebagai pemahat kayu dan penabuh gendang pertama.
Pembuatan gendang mengikuti tradisi yang sudah berlangsung sejak lama, menjadikannya bukan hanya benda seni, tetapi juga simbol spiritual dan budaya.
Gendang Asmat biasanya dibuat dari sepotong kayu utuh yang diukir menyerupai bentuk jam pasir.
Pegangannya dihiasi dengan ukiran yang melambangkan keberanian, seperti simbol perburuan kepala.
Kulit penutup bagian atas gendang terbuat dari kulit biawak, yang direkatkan menggunakan campuran darah dan kapur, memperkuat makna magis dan sakral dari alat musik ini.
Proses pembuatan gendang sangat rumit dan memakan waktu lama. Kayu dipilih secara khusus, terutama yang bagian tengahnya lunak sehingga dapat dibuang dengan tongkat kayu palem yang keras.
Proses ini dilakukan di tepi sungai saat air pasang agar sisa-sisa kayu terbawa arus.
Bentuk jam pasir diperoleh dengan membakar bagian tertentu menggunakan bara api, lalu dikikis dan dibentuk hingga menyerupai bentuk akhir dengan gagang melengkung.
Setelah selesai, kulit biawak dipanaskan di dekat api agar menyusut dan mencapai tegangan suara yang diinginkan.
Karena udara lembap di Papua, tegangan kulit mudah mengendur, sehingga gendang perlu disetel ulang setiap 20–30 menit.
Setiap gendang hanya menghasilkan satu nada, maka biasanya digunakan secara berkelompok, baik dari jumlah gendang maupun penabuhnya, untuk menciptakan harmoni bunyi yang khas.-***

