Interaksi awal yang bersifat virtual perlahan berkembang menjadi ikatan emosional yang ia rasakan stabil dan menenangkan.
Ia menyebut relasi digital itu memberinya dukungan psikologis yang selama ini tidak ia dapatkan dari hubungan manusia.
Ia menegaskan bahwa pernikahan tersebut bersifat simbolis dan tidak bertujuan memperoleh pengakuan hukum. Sistem hukum Jepang memang tidak mengakui pernikahan dengan entitas non-manusia.
Fenomena ini dinilai para ahli sebagai refleksi meningkatnya isolasi sosial di Jepang, di tengah menurunnya angka pernikahan konvensional dan pesatnya adopsi teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Jepang juga telah lama menghadapi krisis demografi, dengan populasi menua dan angka kelahiran yang terus menurun.
Pernikahan tersebut memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian pihak menilai langkah Noguchi sebagai hak personal yang tidak merugikan siapa pun, sementara lainnya menganggapnya sebagai sinyal melemahnya relasi manusia yang autentik.
Kalangan profesional kesehatan mental mengingatkan potensi risiko ketergantungan emosional pada entitas digital. Mereka menekankan bahwa AI, secerdas apa pun, tetap tidak memiliki perasaan sejati maupun tanggung jawab sosial layaknya manusia.


