KeuanganNews

Pembayaran Menggunakan QRIS Tumbuh Pesat dan Jadi Pilihan Masyarakat

×

Pembayaran Menggunakan QRIS Tumbuh Pesat dan Jadi Pilihan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
images 5 3

KITAINDONESIASATU.COM – Pembayaran dengan menggunakan QRIS saat ini menjadi alat favorit yang digunakan masyarakat dalam bertransaksi. Pasalnya, Bank Indonesia (BI) mencatat pembayaran dengan kartu ATM debit mengalami penurunan sebesar 9,57 persen (yoy) menjadi 584 juta transaksi pada Juli 2024.

“Transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM debit turun 9,57 persen (yoy) menjadi 584,95 juta transaksi. Transaksi kartu kredit tumbuh 15,35 persen (yoy) mencapai 39,83 juta transaksi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, yang dikutip Jumat (22/8).

Untuk transaksi QRIS, kata Perry, terus tumbuh pesat yang mencapai 207,55 persen (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 51,43 juta dan jumlah merchant 33,21 juta. Dari pengelolaan uang Rupiah, sambungnya, jumlah Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 9,45 persen (yoy) menjadi Rp1.041,02 triliun. “Sementara dari sisi ritel, volume transaksi BI-FAST tumbuh 6 persen (yoy) mencapai 301,41 juta transaksi,” ujarnya.

Baca Juga  Rupiah Kembali Loyo Lawan Dolar AS, Tertekan di Level Rp16.617

Perry menambahkan, untuk transaksi digital banking tercatat 1.845,27 juta transaksi atau tumbuh sebesar 30,50 persen (yoy) dan transaksi Uang Elektronik (UE) tumbuh 22,6 persen (yoy) mencapai 1.272,35 juta transaksi. “Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2024 tetap kuat didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal,” imbuhnya.

Perry menyebut, ketahanan sistem keuangan juga terjaga baik, di mana likuiditas perbankan pada Juli 2024 tetap memadai yang tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang sebesar 25,5 persen.

Baca Juga  BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia 427,8 Miliar Dolar AS pada Triwulan III 2024, Ini Artinya

Lalu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat i sebesar 26,09 perden sehingga dapat menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Sementara itu, risiko kredit bermasalah perbankan (Non-Performing Loan/NPL) pada Juni 2024 sebesar 2,26 persen (bruto) dan 0,78 pereen (neto).

“Ketahanan permodalan dan likuiditas perbankan juga ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga, sebagaimana hasil stress test perbankan terkini, ” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *