KITAINDONESIASATU.COM – Perkembangan teknologi komputer kuantum mulai menjadi perhatian dalam keamanan aset kripto, termasuk Bitcoin.
Kajian mengenai paparan risiko kuantum menunjukkan bahwa sebagian Bitcoin memiliki kunci publik yang berpotensi menghadapi ancaman apabila kemampuan komputasi kuantum berkembang cukup jauh pada masa mendatang.
Berdasarkan data hingga blok Bitcoin 959.193 pada 13 September 2026, sekitar 4,83 juta BTC atau 24,1 persen dari Bitcoin yang belum dibelanjakan tercatat memiliki kunci publik yang terlihat. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan risiko terhadap sistem kriptografi berbasis kurva eliptik yang digunakan Bitcoin.
Meski demikian, angka tersebut tidak berarti seluruh Bitcoin yang teridentifikasi dapat diretas saat ini. Komputer kuantum yang tersedia sekarang belum mampu mengeksploitasi kerentanan tersebut. Risiko ini lebih berkaitan dengan kemungkinan kemajuan teknologi pada masa depan.
Persiapan Keamanan Bitcoin Menghadapi Era Komputer Kuantum
Paparan risiko tersebut terbagi menjadi sekitar 1,7 juta BTC yang secara struktural terekspos dan 3,1 juta BTC yang secara operasional terekspos. Kedua kategori itu memiliki kemungkinan tumpang tindih sehingga jumlahnya tidak dapat langsung dijumlahkan sebagai total Bitcoin yang berbeda.
Situasi ini mendorong pentingnya persiapan sejak dini. Inisiatif seperti Quantum Alliance berupaya meningkatkan kesiapan industri, mendorong migrasi menuju kriptografi pascakuantum, serta memperkuat sistem keamanan untuk menghadapi potensi ancaman tersebut.
