KITAINDONESIASATU.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengakhiri perdagangan di zona merah pada Rabu (7/10/2026).
Tekanan jual membuat indeks saham Indonesia melemah setelah sempat dibuka positif dan bergerak di area penguatan pada awal sesi perdagangan.
IHSG sempat mencapai level tertinggi tidak lama setelah pembukaan. Namun, tekanan jual kemudian membuat indeks berbalik arah dan bergerak lebih rendah. Hingga sesi kedua, pergerakan IHSG cenderung terbatas sebelum akhirnya ditutup melemah.
Koreksi tersebut terjadi ketika mayoritas saham berada dalam tekanan. Sebanyak 390 saham tercatat melemah, sedangkan 293 saham bergerak stagnan dan hanya 280 saham berhasil menguat.
Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar yang cukup luas, bukan hanya berasal dari beberapa saham berkapitalisasi besar.
Sektor Energi Jadi Penekan Utama IHSG
Sektor energi menjadi salah satu sumber tekanan terbesar terhadap IHSG. Pelemahan juga terjadi pada sektor infrastruktur dan material dasar, sehingga memperbesar tekanan terhadap indeks sepanjang perdagangan.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat IHSG, termasuk PT Bayan Resources Tbk atau BYAN. Selain BYAN, tekanan juga datang dari saham BBCA, DSSA, BREN, BRPT, dan TPIA.
Di tengah koreksi tersebut, sejumlah saham masih mampu memberikan dorongan terhadap indeks. BBRI, TLKM, AMMN, SMMA, CASA, dan BMRI menjadi beberapa saham yang bergerak sebagai penahan laju pelemahan.
Pergerakan IHSG selanjutnya masih akan dipengaruhi sentimen global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

