KITAINDONESIASATU.COM – Harga emas dunia kembali menunjukkan daya tahan yang kuat setelah mampu mempertahankan level support penting di kisaran US$4.000 per troy ounce selama lima pekan berturut-turut.
Meski belum berhasil mencatat lonjakan signifikan, logam mulia ini dinilai masih memiliki prospek positif di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang belum sepenuhnya jelas.
Pergerakan emas dalam beberapa pekan terakhir cenderung stabil meskipun sempat menghadapi tekanan jual.
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena menunjukkan bahwa minat terhadap aset safe haven masih tetap tinggi di tengah meningkatnya risiko inflasi dan gejolak pasar keuangan internasional.
Faktor Inflasi dan The Fed Jadi Penentu Arah Harga Emas
Analis menilai arah harga emas dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi di Amerika Serikat serta keputusan suku bunga Federal Reserve.
Selain itu, kebijakan tarif impor baru yang diterapkan pemerintah AS juga berpotensi menambah tekanan inflasi sehingga memengaruhi sentimen pasar terhadap logam mulia.
Di sisi lain, harga minyak dunia yang masih berada di level tinggi ikut menjadi faktor penting.
Kenaikan biaya energi dikhawatirkan mendorong inflasi bertahan lebih lama sehingga mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Meski demikian, konflik geopolitik di Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi faktor yang menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Jika ketidakpastian global terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi mulai melambat, investor berpotensi kembali mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
