KITAINDONESIASATU.COM – Pasar aset kripto kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Asia, Senin, 13 Juli 2026.
Harga Bitcoin (BTC) mengalami pelemahan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong lonjakan harga minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Bitcoin sempat turun sekitar 2,4 persen ke level US$62.600.
Penurunan tersebut membuat mata uang kripto terbesar di dunia kembali berada di bawah indikator 200-week moving average, yang sering dijadikan acuan teknikal untuk melihat potensi tren pelemahan jangka panjang. Tekanan serupa juga dialami Ether (ETH) yang terkoreksi sekitar 2,5 persen.
Melemahnya pasar kripto terjadi bersamaan dengan penurunan kontrak berjangka saham Amerika Serikat serta kenaikan tajam harga minyak mentah setelah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Faktor yang Menekan Harga Bitcoin
Beberapa sentimen utama yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dan pasar kripto saat ini meliputi:
- Konflik AS dan Iran semakin memanas
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan baru ke Iran. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. - Harga minyak mentah melonjak
Minyak Brent dilaporkan naik lebih dari 4 persen hingga melampaui US$79 per barel. Kekhawatiran gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu kenaikan harga energi global. - Ancaman inflasi kembali meningkat
Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi global. Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya produksi dan transportasi di berbagai negara. - Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed
Investor kini menantikan data inflasi Amerika Serikat serta arah kebijakan bank sentral. Jika inflasi kembali meningkat, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan semakin besar, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Meski pasar sedang mengalami koreksi, terdapat sinyal positif dari sisi investasi institusional. Produk investasi spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat arus dana masuk bersih sebesar US$197,4 juta sepanjang pekan lalu.
Capaian tersebut menjadi aliran dana positif pertama setelah sembilan pekan berturut-turut tidak mencatat pertumbuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, karakter Bitcoin juga mulai berubah.
Jika sebelumnya sering dianggap sebagai aset pelindung nilai saat terjadi gejolak geopolitik, kini pergerakannya semakin dipengaruhi kondisi makroekonomi global, termasuk inflasi, kebijakan suku bunga, dan sentimen investor terhadap aset berisiko.

