KITAINDONESIASATU.COM – Bitcoin memasuki Oktober 2026 dengan momentum yang relatif positif.
Pergerakan aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut menunjukkan tren penguatan, tetapi masih menghadapi tantangan untuk menembus level resistensi penting di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya mendukung aset berisiko.
Pada awal Oktober, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$83.823. Pergerakannya menunjukkan kecenderungan naik, tetapi masih kesulitan melewati area US$84.433.
Kondisi tersebut membuat pasar menunggu apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentum atau kembali menghadapi tekanan jual.
September sebelumnya menjadi bulan yang cukup positif bagi Bitcoin dengan kenaikan sekitar 6,33 persen. Namun, memasuki Oktober, perhatian investor kembali tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama perkembangan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Bitcoin Hadapi Tekanan Suku Bunga dan Ekspektasi Uptober
Kenaikan imbal hasil Treasury AS dapat menjadi tantangan bagi aset berisiko seperti Bitcoin karena investor memiliki alternatif instrumen yang dianggap lebih defensif.
Kebijakan suku bunga Federal Reserve juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah pasar kripto dalam jangka pendek.
Meski demikian, Oktober kerap dikenal di kalangan pelaku pasar kripto sebagai “Uptober”, merujuk pada kecenderungan historis Bitcoin mengalami penguatan pada bulan tersebut.
Sentimen pasar saat ini masih berhati-hati, dengan pelaku pasar memperkirakan peluang Bitcoin bertahan di atas area US$84.000 cukup besar.
Data perdagangan di Pluang pada 2 Oktober 2026 juga menunjukkan aktivitas pasar yang tetap tinggi. Bitcoin tercatat mengalami kenaikan harian sekitar 1,01 persen, sementara minat beli mencapai 59 persen dari pesanan yang tercatat.

