“Prosentase pasien TB yang menjalani skrining HIV meningkat signifikan. Monitoring dilakukan setiap triwulan dan menjadi dasar evaluasi layanan. Tahun ini, kami menargetkan minimal 80 persen pasien TB menjalani skrining HIV, serta menekan angka penolakan pasien di bawah 10 persen,” ujar Dini.
Model layanan ini juga tengah disiapkan untuk direplikasi ke Puskesmas lainnya di wilayah Kabupaten Bogor. TEH PETRA dinilai sebagai contoh keberhasilan integrasi layanan TB-HIV yang efisien dan berbasis empati.
“Melalui TEH PETRA, kami memperlihatkan bahwa inovasi dalam pelayanan kesehatan tidak harus rumit. Cukup dengan komitmen, empati, dan pendekatan manusiawi, transformasi besar bisa dimulai dari akar layanan,” imbuhnya. (NICKO)
