KITAINDONESIASATU.COM – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali menyoroti pentingnya transformasi energi di Indonesia.
Para analis menilai percepatan penggunaan Kendaraan Listrik menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional.
Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menilai ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar minyak berbasis impor membuat ekonomi domestik rentan terhadap fluktuasi harga energi global.
Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil bahkan sempat melonjak hingga 58 persen dan mencapai sekitar 116 dolar AS per barel pada awal Maret 2026.
Angka tersebut jauh di atas asumsi harga minyak Indonesia dalam APBN yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
Efisiensi Energi Jadi Alasan Utama
Menurut analisis INDEF, kenaikan harga minyak memiliki dampak langsung pada keuangan negara.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan dapat menambah tekanan defisit fiskal hingga sekitar Rp6,8 triliun.
Elektrifikasi transportasi dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk menekan konsumsi bahan bakar fosil.
Data penggunaan kendaraan listrik selama 2021 hingga 2025 menunjukkan konsumsi listrik sekitar 328 juta kWh mampu menghemat sekitar 1,3 juta barel bahan bakar minyak.
Penghematan tersebut setara dengan total konsumsi BBM nasional dalam satu hari.
Dengan cadangan operasional BBM yang masih terbatas, percepatan adopsi kendaraan listrik dinilai semakin mendesak agar ketahanan energi nasional lebih kuat.(*)
