Lalu, kenapa OpenAI berani masuk ke pasar yang sudah dikuasai Chrome? Jawabannya: data.
Sama seperti Chrome yang menjadi mesin pengumpul data demi menopang kerajaan iklannya, browser milik OpenAI berpotensi menjadi tambang emas informasi.
Data perilaku pengguna yang dikumpulkan akan sangat berharga untuk melatih AI agar semakin pintar, sekaligus membuka peluang bisnis yang besar di masa depan.
Namun, di balik inovasi ini, muncul tanda tanya besar soal privasi. OpenAI, seperti halnya Google, pernah dikritik terkait cara mereka mengelola dan memanfaatkan data.
Kekhawatiran bahwa produk ini akan “haus” data membuat banyak pihak meminta adanya mekanisme perlindungan yang jelas.
Semua pertanyaan itu baru akan terjawab saat produk ini resmi diluncurkan. Hingga saat itu, dunia teknologi sedang menanti dengan waspada—apakah ini langkah revolusioner yang akan mempermudah hidup kita, atau sekadar permainan baru dalam perebutan data pengguna?***
