Iptek

Peneliti Google DeepMind Mundur, Keterlibatan AI dalam Proyek Militer Jadi Pemicu

×

Peneliti Google DeepMind Mundur, Keterlibatan AI dalam Proyek Militer Jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
10 Istilah Paling Dicari di Google Indonesia Sepanjang Tahun 2024
Google DeepMind

KITAINDONESIASATU.COM – Gelombang pengunduran diri dilaporkan melanda divisi kecerdasan buatan Google DeepMind.

Sejumlah peneliti dan insinyur riset senior memilih meninggalkan perusahaan karena keberatan terhadap keterlibatan teknologi AI Google dalam proyek militer Amerika Serikat dan Israel.

Para staf menilai perluasan penggunaan AI untuk kepentingan militer menimbulkan persoalan etika, terutama terkait pengawasan manusia dan risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan di medan perang.

Mereka juga mempertanyakan sejauh mana perusahaan dapat mengendalikan penggunaan teknologinya setelah diserahkan kepada pihak militer.

Salah satu peneliti yang mengundurkan diri adalah Sofia Liguori, Research Engineer Google DeepMind yang berbasis di London.

Sementara itu, Andreas Kirsch juga dilaporkan meninggalkan perusahaan pada Oktober 2026 setelah menyampaikan kekhawatiran mengenai terbatasnya pengawasan terhadap pemanfaatan AI oleh Pentagon.

Kontrak Militer Google Picu Perdebatan Etika AI

Kontroversi tersebut berkaitan dengan kerja sama Google bersama Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Pemerintah AS di bawah Menteri Pertahanan Pete Hegseth mendorong pemanfaatan AI untuk memperkuat kemampuan operasional militer, termasuk melalui integrasi teknologi dalam sistem pengolahan intelijen.

Google juga menghadapi sorotan atas keterlibatannya dalam Project Nimbus, kontrak infrastruktur komputasi awan dan AI senilai 1,2 miliar dolar AS bersama Amazon untuk pemerintah Israel.

Meskipun kontrak militer Google disebut memuat pembatasan penggunaan AI untuk senjata otonom tanpa pengawasan manusia, sejumlah peneliti meragukan penerapannya dapat berjalan efektif.

Kecepatan pemrosesan AI dinilai berpotensi menyulitkan operator memeriksa setiap rekomendasi, khususnya ketika sistem menghasilkan banyak kandidat target dalam waktu singkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *