Arif juga mendapat dukungan penuh dari kakaknya yang juga suka robotik, dan dibimbing oleh mahasiswa IPB yang kini menempuh studi di Jerman.
Tak berhenti di situ, meski sempat kesulitan mencari pembimbing, Arif tetap gigih belajar otodidak dari video-video di YouTube sejak kelas 3 SD. Hasilnya, dia telah menciptakan berbagai alat inovatif seperti mini komputer, robot mini radar, sistem absensi, hingga alat penyiram tanaman digital.
Prestasi Arif tidak hanya terbatas di tingkat lokal. Sejak kelas 2 SD, ia telah mengikuti berbagai kompetisi inovasi, baik nasional maupun internasional, dan bahkan sering dimintai bantuan oleh mahasiswa untuk menciptakan alat-alat robotik.
“Nggak nyangka aja, banyak yang minta bantuan bikin alat robotik, padahal saya cuma senang buatnya,” tutup Arif. (Nicko)
