KITAINDONESIASATU.COM – Suasana di Jalur Wisata Puncak, Kabupaten Bogor, memanas ketika ratusan warga dan pedagang menolak keras pembongkaran lapak usaha mereka oleh ribuan personel gabungan pada Senin, 26 Agustus 2024, pagi.
Mereka menilai bahwa tindakan ini tidak adil, terutama karena bangunan restoran besar Asep Stroberi yang berada di kawasan ex Rindu Alam tetap berdiri tegak, sementara bangunan lain di sekitarnya dihancurkan.
Aksi protes warga semakin memanas ketika mereka menghadang alat berat yang melintas tepat di depan restoran Asep Stroberi. “Bongkar itu woy, bongkar!” teriak seorang warga yang turut serta menutup akses jalan, menunjukkan kemarahan mereka atas apa yang mereka sebut sebagai tindakan “tebang pilih.”
Suasana semakin tegang ketika aksi saling dorong dan adu mulut terjadi antara warga dengan personel yang bertugas. “Tebang pilih, huuh tebang pilih,” ujar salah satu pedagang yang ikut dalam aksi tersebut.
Di tengah situasi yang memanas, Pj Bupati Bogor, Asmawa Tosepu, menjelaskan bahwa kegiatan hari ini merupakan bagian dari tahap kedua penataan kawasan Puncak.
“Hari ini, kami melaksanakan penataan terhadap kurang lebih 196 bangunan liar yang berdiri di kawasan Puncak. Tahap pertama telah fokus pada 330 bangunan liar yang sudah berhasil dibongkar,” ungkapnya.
Asmawa menegaskan bahwa penataan kali ini dilakukan sesuai prosedur, dengan prinsip penggeseran dan relokasi.
“Pemerintah Kabupaten Bogor, bekerja sama dengan pemerintah pusat, sudah membangun rest area bagi para pedagang di sekitar Puncak,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dari 196 bangunan yang menjadi target penataan, 90 di antaranya telah dibongkar secara mandiri oleh pemiliknya setelah sosialisasi intensif yang dilakukan oleh pemerintah.

