Feature

Potensi Batik Ciprat Warga Kampung Idiot Ponorogo

×

Potensi Batik Ciprat Warga Kampung Idiot Ponorogo

Sebarkan artikel ini
batik idiot
Warga sedang mengerjakan batik ciprak yang menjadi ciri khas di Desa Karangpatihan, Balong, Ponorogo. foto: kominfo ponorogo

KITAINDONESIASATU.COM – Masih ingat sebutan kampung idiot di wilayah Desa Karang Patihan, Kecamatan Balong dan Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur?

Kampung ini awalnya merupakan kawasan tandus hingga penduduknya mengalami kekurangan gizi hingga mengalami keterbelakangan mental (idiot) atau tunagrahita.

Kini wilayah ini kondisinya sudah berbeda kalau sebekumnya terdapat sekitar 300 warga mengalami keterbelakangan mental, karena gizi buruk.

Kini jumlah itu terus berkurang hingga berjumlah menjadi 98 orang dan digelar berbagai program pemberdayaan.

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desa itu melalui berbagai kegiatan produktif.

Seperti yang dilakukan warga tunagrahita di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo ini.

Melalui bimbingan dan upaya keras dari tim pendamping mereka terbukti mampu berkreasi menciptakan batik ciprat yang khas dari desa ini.

Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi mengatakan melalui bimbingan warga berkebutuhan kusus di desanya kini tidak lagi menjadi beban pemerintah sepenuhnya.

Karena selama ini mereka sudah menghasilkan pendapatan meningkatkan kehidupan mereka yang sebelumnya sepenuhnya hanya mengandalkan bantuan.

Eko Mulyadi menyebut batik ciprat karya warganya yang berkebutuhan khusus itu pernah tampil di berbagai peragaan busana.

Bahkan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo, medio Agustus lalu, batik ciprat made in Karangpatihan juga dipamerkan.

“Kami selama ini memasarkan melalui marketplace dan website Batik Ciprat Karangpatihan (batikcipratkarangpatihan.id),” terangnya. website: batikcipratkarangpatihan.id

Dikatakan oleh Kades Eko sejauh ini pesanan datang dari hampir seluruh pulau di Indonesia.

“Pembeli bukan hanya dari kalangan penyuka batik, tapi karena peduli terhadap para tunagrahita,” kata Kepala Desa Karangpatihan Eko Mulyadi, Selasa (8/10/2024).

Namun diakui corak setiap karya batik ciprat itu selalu berbeda dari batik-tatik yang dibuat sebelumnya.

Warga tunagrahita secara spontan mencipratkan pewarna di atas selembar kain itu.

Kendati ada peran pendamping, mereka kerap menghasilkan karya batik yang ekspresif dan unik.

Setiap lembar kain batik ciprat dibanderol dengan rentang harga Rp175 ribu hingga Rp180 ribu.

Dari nominal penjualan itu, para perajin mendapat porsi 30 persen bersih dan sisanya dipakai menutup biaya produksi dan sebagian lagi untuk membantu warga tunagrahita lainnya.

“Ini merupakan salah satu program Catur Karsa yang kami lakukan sejak tahun 2013 lalu,” ungkap Eko Mulyadi.

Catur Karsa adalah upaya Pemerintah Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong untuk meningkatkan kualitas hidup para tunagrahita.

Pihaknya berusaha agar penyandang disabilitas intelektual itu memiliki pendapatan harian, bulanan, triwulan, serta tahunan melalui berbagai kegiatan produktif.

“Untuk memberdayakan para tunagrahita. Alhamdulillah sekarang mereka sudah dapat mencari uang sendiri, membiayai hidup sehari-hari, bahkan menyekolahkan anaknya,” ujar Eko dari laman kominfo Ponorogo. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *