KITAINDONESIASATU.COM – – Kekayaan alam di wilayah Jember dan sekitarnya tidak hanya tersimpan dalam bentang alam pegunungan, tetapi juga dari keberadaan fauna endemik yang jarang diketahui masyarakat.
Salah satunya adalah puyuh gonggong biasa (Arborophila orientalis), burung yang hanya ditemukan di kawasan tertentu seperti dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri.
Burung tersebut menjadi salah satu kekayaan hayati khas kawasan Pandalungan. Namun, keberadaannya kini menghadapi ancaman karena habitat yang terus mengalami perubahan serta potensi perburuan liar. Status konservasinya juga masuk kategori rentan terhadap kepunahan atau vulnerable.
Keunikan puyuh gonggong menarik perhatian peneliti Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (UNEJ), Arif Mohammad Siddiq. Selama sekitar tiga tahun, ia melakukan pengamatan langsung di kawasan Pegunungan Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri untuk mempelajari perilaku serta habitat burung tersebut.
“Puyuh gonggong biasa hanya hidup di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri saja, di tempat lain tidak ada. Suaranya yang melengking dan seperti menggonggong mirip anjing membuat para pakar burung menjulukinya sebagai puyuh gonggong,” ungkap Arif saat ditemui di kampus FMIPA UNEJ, Jumat (12/6/2026).
Puyuh Gonggong dan Potensi Kekayaan Fauna Pandalungan
Menurut hasil pengamatan Arif, puyuh gonggong biasa hidup secara berkelompok dengan jumlah sekitar lima hingga 15 ekor. Burung ini banyak ditemukan di kawasan hutan dengan ketinggian 500 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut, terutama wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter.
Aktivitas burung tersebut biasanya berlangsung pada pagi hari dan menjelang malam. Puyuh gonggong mencari makanan di lantai hutan yang masih memiliki tutupan pepohonan rapat.
Dalam melakukan penelitian, Arif menggunakan kamera jebak untuk merekam aktivitas burung di habitat alaminya. Dari metode tersebut, ia juga menemukan berbagai satwa lain yang menghuni kawasan pegunungan, seperti ajag, merak, hingga macan tutul.
Kehadiran puyuh gonggong dinilai memperkuat potensi pengembangan kawasan konservasi sekaligus wisata berbasis alam.
Selain memiliki panorama pegunungan, wilayah Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri juga dikenal kaya akan flora serta fauna unik.






