Berita Utama

Warga Tangerang Selatan Diimbau Hemat Air, Puncak Kemarau Sampai September

×

Warga Tangerang Selatan Diimbau Hemat Air, Puncak Kemarau Sampai September

Sebarkan artikel ini
pasokanair
Warga mendapat psaokan air bersih selama musim kemarau. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM-Puncak musim kemarau di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diperkirakan pada September mendatang. Sehingga curah hujan di wilayah Tangsel diperkirakan tetap rendah, dan masyarakat diminta mulai mewaspadai potensi kekeringan dan keterbatasan air bersih

Menurut Hartanto Kepala BBMKG Wilayah II, seluruh wilayah Banten saat ini telah memasuki musim kemarau. Untuk Tangsel, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September. “Prediksi puncak musim kemarau 2026 di wilayah Banten berada pada bulan Juli hingga September 2026,” ujarnya dalam keterangan resminya, kemarin.

Berdasarkan pemetaan BMKG, Tangsel masuk dalam Zona Musim (ZOM) 168 bersama wilayah Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang bagian tenggara. Wilayah tersebut diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September.

Kondisi atmosfer regional turut berkontribusi terhadap rendahnya curah hujan. Menurunnya aktivitas konvektif di atmosfer membuat pertumbuhan awan hujan ikut berkurang.

“Kondisi atmosfer regional berkontribusi terhadap penurunan curah hujan di wilayah Indonesia termasuk wilayah Banten. Kondisi ini mengurangi aktivitas konvektif di atmosfer sehingga pertumbuhan awan konvektif dan potensi hujan cenderung menurun,” ungkap Hartanto.

Untuk periode dasarian II dan III Agustus, curah hujan di Banten secara umum diprediksi berada pada kategori rendah, yakni 0-20 milimeter. Kondisi serupa masih berlanjut hingga dasarian I dan II September.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, terutama berkurangnya ketersediaan air. Penghematan air dan menjaga sumber air bersih perlu dilakukan sejak dini. “Masyarakat di Provinsi Banten diimbau untuk mewaspadai potensi penurunan curah hujan seiring dengan menguatnya kondisi El Niño,” kata Hartanto.

Kondisi ini, lanjut Hartanto, berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau serta meningkatkan kekeringan meteorologis. Dampaknya dapat berupa berkurangnya ketersediaan air dan penurunan debit sungai.

“Masyarakat diharapkan melakukan penghematan penggunaan air, menjaga sumber-sumber air bersih, mengoptimalkan irigasi dan distribusi air untuk lahan pertanian, serta tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara terbuka,” imbaunya.

Hartanto menambahkan, selain Tangsel, sejumlah wilayah Banten juga menghadapi kondisi hari tanpa hujan yang cukup panjang. Wilayah pesisir utara dan selatan didominasi kategori sangat panjang, yakni 31-60 hari. Bahkan, kategori kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari tercatat di sejumlah wilayah Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon dan Kabupaten Lebak. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *