Berita UtamaInternasional

Trump Ultimatum Iran: Ganggu Minyak Hormuz, Serangan AS Akan 20 Kali Lebih Ganas

×

Trump Ultimatum Iran: Ganggu Minyak Hormuz, Serangan AS Akan 20 Kali Lebih Ganas

Sebarkan artikel ini
FotoJet 8 4
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras kepada Iran. Ia memperingatkan bahwa Washington siap melancarkan serangan yang 20 kali lebih dahsyat jika Teheran berani mengganggu pasokan minyak global di Selat Hormuz.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa (10/3), Trump menegaskan bahwa langkah apa pun dari Iran yang berpotensi menghentikan aliran minyak di jalur pelayaran strategis tersebut akan dibalas dengan kekuatan militer yang jauh lebih brutal dibandingkan serangan yang terjadi sebelumnya.

“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan pasokan minyak di Selat Hormuz, Amerika Serikat akan menyerang mereka dua puluh kali lebih keras,” tegas Trump.

Bahkan, Trump menyatakan AS siap mengincar target-target yang dianggap mudah dihancurkan di wilayah Iran. Ia mengklaim serangan tersebut dapat membuat Teheran hampir mustahil membangun kembali negaranya karena dampak kematian, api, dan amarah yang akan ditimbulkan.

Meski demikian, Trump juga menyebut dirinya berharap skenario tersebut tidak benar-benar terjadi. Ia bahkan menyebut sikap keras Washington sebagai hadiah bagi negara-negara yang bergantung pada jalur energi global, termasuk China, yang sangat bergantung pada kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Baca Juga  Pengakuan Mengejutkan! Donald Trump Disebut Ubah Target Perang Tiap Hari, Situasi Makin Berbahaya

“Saya harap langkah ini akan mendapat banyak apresiasi,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah Iran langsung membantah tudingan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menutup ataupun menghalangi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan PBS, Araghchi menyatakan bahwa gangguan terhadap produksi dan pengiriman minyak justru dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Menurutnya, tindakan militer kedua negara tersebut telah menciptakan ketidakamanan di kawasan, sehingga membuat kapal tanker dan kapal dagang lainnya merasa khawatir untuk melintas di jalur strategis itu.

Baca Juga  Ancol Jadi Magnet Libur Imlek, Pengunjung Diperkirakan Membludak

“Kami tidak menutup selat. Kami tidak menghalangi pelayaran di sana,” tegas Araghchi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *