Berita Utama

Tragedi Kemanusiaan: Korban Tewas Pendulang Emas yang Dibunuh OPM di Yahukimo Jadi 10 Orang

×

Tragedi Kemanusiaan: Korban Tewas Pendulang Emas yang Dibunuh OPM di Yahukimo Jadi 10 Orang

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 05 21 at 20.32.04
OPM pimpinan Dejang Heluka membunuh 10 penambang emas di Yahukimo, Papua Pegunungan. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Korban tewas akibat serangan brutal yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap para pendulang emas tradisional di wilayah Korowai Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dilaporkan kembali bertambah menjadi 10 orang.

Berdasarkan data pembaruan dari pihak TNI/Polri dan tim evakuasi di lapangan, total korban meninggal dunia kini resmi tercatat mencapai 10 orang, setelah ditemukan beberapa korban baru dalam kondisi tak bernyawa di sekitar lokasi kejadian.

Kasi Penerangan Koops TNI Habema Kapten Sus Dewa Puspanegara mengatakan, berdasarkan data terakhir korban tewas mencapai 10 orang. Aaparat keamanan gabungan TNI dan Polri fokus untuk melakukan evakuasi terhadap korban tewas.

Selain itu, petugas terus melakukan penyisiran intensif di area pendulangan yang menjadi titik penyerangan. Tantangan geografis yang berat dan minimnya akses komunikasi sempat menghambat proses pendataan awal, namun evakuasi jenazah kini telah berhasil diselesaikan oleh satgas pengamanan wilayah.

Pihak berwenang mengecam keras tindakan tidak berperikemanusiaan ini dan menegaskan akan terus mengejar kelompok pelaku guna memulihkan stabilitas keamanan di Yahukimo. Kelompok OPM pimpinan Dejang Heluka bersama Kopitua Heluka mengaku bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.

Situasi di sekitar lokasi penambangan saat ini dijaga ketat oleh personel bersenjata untuk mengantisipasi adanya serangan susulan. Sementara itu, Dejang Heluka mengaku melakukan aksi tersebut sebagai balasan atas tewasnya rekan mereka oleh aparat.

Pemerintah daerah setempat bersama aparat keamanan juga mengimbau kepada seluruh pekerja tambang tradisional dan warga sipil lainnya untuk sementara waktu menghentikan aktivitas di area terpencil demi menjaga keselamatan jiwa mereka.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *