Fakta 2 (dua) cuitan analisis saya itu masih dapat dibaca melalui Bukti link x.com/KRMTRoySuryo2/status/1232209584216920065 yang berisi 4 (empat) lampiran, masing-masing Foto “Drs. JkW” (bergelar “Drs”) saat kunjungan di Pabrik Sritex bersama Alm. HM Lukminto 20/09/06, Foto dengan titel “Ir. JkW” bersama pak FX Hadi Rudiyatmo, “Akta Kelahiran JkW” –seharusnya tahun 1961- yang baru dibuat tahun 1988 (?) dan Skrinsut DetikCom tahun 2017 yang memberitakan pergantian nama “Mulyono jadi JkW”. Cuitan bersambung ke link x.com/KRMTRoySuryo2/status/1232190348916453377 yang juga menampilkan 4 (empat) lampiran, masing-masing Halaman “Buku Wisuda” tahun 1985 yang memuat Foto Orang lain namun ditulis dengan nama “JkW”, Copy “Ijazah JkW” yang tidak pernah bisa dibuktikan keaslian dan bahkan bentuk Fisik Aslinya hingga saat ini, Skrinsut dari laman Online Public Acess Catalog (OPAC) opac.lib.ugm.ac.id dan tentu saja Sampul luar berikut “Halaman pengesahan” yang sesuai hipotesis RHS saat ini.
Artinya Font “Aptos” alias “Bierstadt” -bersama “Grandview, Seaford, Skeena, dan Tenorite”- jelas masuk akal bila saya gunakan saat ini, karena sudah di release Microsoft empat tahun lalu, namun menjadi hil yang mustahal (bahasa Srimulat untuk hal yang mustahil) jika sudah muncul dan dipakai sebelum tahun 2021. Hal ini jelas mengingatkan kita pada jenis huruf “Times New Roman proportional” pada True Type Font Microsoft Word di OS Windows 3.11 atau WordStar 5.5 dan 6.0 di OS MS-DOS yang jelas-jelas belum muncul di akhir tahun 1985, saat Halaman Pengesahan tanpa tanggal “Skripsi JkW” itu disyahkan (?) oleh Prof Dr Ir Achmad Soemitro dan Prof Dr Soenardi Prawiroatmodjo. Jadi mau dibela dengan tipu muslihat apapun (sebagaimana yang sudah biasa dilakukannya selama satu dekade sebelumnya oleh Para BuzzerRp dan CebokerRp), sangat tidak logis alias tak masuk di akal sehat orang waras.
Kembali pada bahasan utama soal Teror nDhas Babi dan 6 nDhas Tikus, kedua hal yang dialami oleh Media Tempo kemarin sebenarnya bukan yang pertama. Dalam catatan saya setidaknya sudah terjadi. 6 (enam) kali dialami Tempo, misalnya hari Selasa 06/07/10 terjadi Pelemparan Bom Molotov yang mengakibatkan kerusakan gedung. Kemudian Minggu 05/08/24 Kaca mobil Hussein Abri Dongoran (HAD) dipecah di Jalan Pattimura, disusul Selasa 03/09/24 kembali Kaca Mobil HAD dipecah saat berada di Pos Polisi Kukusan Beji Depok. Sesudah itu bulan Maret 2025 beberapa Jurnalis Tempo mengalami Doxing (penyebaran informasi rahasia pribadi oleh pihak lain yang tidak bertanggungjawab) sebelum Teror nDhas Babi yang dikirimkan kepada Francisca Christy Rosana (FCR / Cica) hari Rabu 19/03/25 dan Teror 6 nDhas Tikus tiga hari sesudahnya Sabtu 22/03/25.



