KITAINDONESIASATU.COM – Dunia diplomasi Indonesia berduka. Arya Daru Pangayunan, seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di kamar indekosnya di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Wajahnya ditutup lakban, tubuhnya tergeletak terlentang berselimut kain biru. Sontak saja kejadian tersebut mengejutkan publik dan menyisakan misteri.
Arya meninggal pada Selasa pagi, 8 Juli 2025. Tapi siapa sebenarnya sosok Arya Daru yang kini jadi sorotan nasional?
Profil Arya Daru Pangayunan
Lahir di Sleman, Yogyakarta, 15 Juli 1986, Arya dikenal sebagai pribadi bersahaja namun sarat prestasi. Lulusan Hubungan Internasional UGM ini memulai kiprah diplomatiknya pada 2011 sebagai staf di KBRI Yangon, Myanmar.
Kariernya pun terus meroket, yakni pada tahun 2018-2020, sebagai Third Secretary bidang politik di KBRI Dili, selanjutnya pada tahun 2020-2022, sebagai Second Secretary untuk ekonomi, sosial, dan budaya di KBRI Buenos Aires, dan pada tahun 2025, sebagai Diplomat Ahli Muda di Direktorat Perlindungan WNI Kemlu RI.
Di mata teman-teman SMA-nya, sosok Arya selain cerdas, ia juga dikenal ramah, pendiam, dan tak pernah terlibat konflik. Tentu saja kematian Arya membuat terkejut teman-teman sekolahnya itu.
Tinggalkan Istri dan Anak
Arya meninggalkan istri dan anak yang sangat ia cintai. Kondisi kamar yang terkunci rapat tanpa tanda-tanda perusakan menimbulkan berbagai spekulasi. Apa yang sebenarnya terjadi? Dugaan kuat menyebut adanya kejanggalan dalam peristiwa tragis ini.
Desakan demi desakan mulai bermunculan. Salah satunya datang dari anggota DPR RI, yang meminta Polri segera membongkar tabir misteri kematian Arya secara terbuka, tuntas, dan transparan. Sebab, nyawa seorang diplomat bukan hal yang sepele terlebih Arya adalah figur muda yang tengah berada di puncak karier diplomatiknya.
Saat ini, penyelidikan masih terus berjalan, dan publik pun menanti. Benarkah Arya meninggal karena kecelakaan, atau adakah faktor lain yang disembunyikan? Kebenaran menjadi sesuatu yang ditagih oleh masyarakat luas, bukan sekadar untuk menuntaskan rasa ingin tahu, tetapi juga demi keadilan dan nama baik almarhum.
Selamat jalan, Arya. Indonesia kehilangan sosok cemerlang. Namamu akan terus hidup dalam catatan diplomasi bangsa. (*)
