Penularan virus Hanta dari tikus menjadi jalur utama penularan. Virus ini menyebar lewat kontak langsung dengan hewan pengerat seperti tikus atau celurut, atau terpapar urin, air liur, serta kotorannya.
Kelompok berisiko tinggi antara lain orang yang beraktivitas di gudang, lokasi pasca banjir, kawasan kumuh, hingga yang hobi berkemah atau mendaki gunung. Di tempat-tempat itu populasi tikus biasanya banyak dan berpotensi membawa virus.
Merespons laporan internasional soal kapal MV Hondius, Kemenkes langsung lacak kontak erat yang sempat berada di Indonesia. Setelah diperiksa di RSPI Sulianti Saroso, hasilnya negatif untuk kedua tipe virus, baik HPS maupun HFRS.
Sebagai langkah antisipasi Kemenkes hadapi virus Hanta, pemerintah memperketat pengawasan di pintu masuk negara. Dilengkapi pemindaian suhu tubuh, pemantauan kesehatan pelaku perjalanan, dan jaringan laboratorium canggih berteknologi PCR hingga Whole Genome Sequencing.
Selain itu, disiapkan pula 198 rumah sakit jejaring tersebar di seluruh Indonesia agar penanganan bisa cepat dan tepat saat ada temuan baru.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menutup rapat bahan makanan, dan menghindari kontak fisik dengan tikus atau kotorannya. Jika mengalami demam tinggi, nyeri otot, batuk, atau sesak napas, segera cek ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kunci utamanya adalah hidup bersih dan sehat, rutin cuci tangan pakai sabun. Itu cara paling ampuh cegah penularan,” pungkas dr. Andi.


