Namun, sebagian korban melaporkan nyeri menjalar ke area tubuh lain di luar lokasi sengatan, menurut Departemen Pertanian AS.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi sistemik yang berpotensi mengancam jiwa.
Risiko anafilaksis dari sengatan semut ini bahkan lebih tinggi dibandingkan sengatan lebah madu.
Respons Otoritas dan Ahli
Para pejabat AS telah mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman kesehatan publik ini.
Emilee Poole, entomolog dari U.S. Forest Service, menyatakan bahwa di hutan Georgia yang terinfeksi berat, semut jarum Asia hampir ditemukan di setiap tunggul, batang kayu, atau ranting di lantai hutan.
“Kemungkinan besar jangkauan semut jarum lebih luas dari yang diketahui saat ini, karena mereka mudah lolos dari deteksi,” ujar Poole.
Scott Egan, profesor biologi di Rice University, Texas, menekankan pentingnya kesadaran publik.
“Penting untuk menyadari jenis semut invasif baru ini, tetapi kita perlu tahu lebih banyak tentangnya,” tegas Egan.
