KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Sentimen negatif eksternal dan domestik dinilai menjadi pemicu utama ambruknya mata uang Garuda ke titik nadir.
Dari sisi domestik, runtunan kasus korupsi besar yang menjerat pejabat tinggi negara akhir-akhir ini memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas tata kelola pemerintahan. Kondisi ini memicu aksi jual aset domestik oleh investor asing (capital outflow) yang masif di pasar saham dan obligasi.
Sementara dari luar negeri, keperkasaan Dolar AS disokong oleh kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang tetap mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam inflasi. Ditambah lagi dengan ketegangan geopolitik global yang meningkat, investor global berbondong-bondong mengalihkan dana mereka ke aset aman (safe-haven).
Kombinasi tekanan ini membuat pasokan valas di dalam negeri mengetat. Pemerintah dan Bank Indonesia kini diharapkan segera mengambil langkah intervensi strategis guna meredam pelemahan yang kian liar.
Seiring berjalannya perdagangan, nilai tukar dollar ke rupiah hari ini perlahan bergerak turun kembali ke kisaran Rp 17.900 per dollar AS.(*)
