Arah protes justru mengarah langsung ke PIF yang memegang kendali besar atas sejumlah klub Liga Pro Saudi, menandakan kritik terhadap sistem liga secara keseluruhan, bukan sekadar satu klub.
Langkah seorang pemain aktif yang memilih “menepi” karena kebijakan finansial dan strategi jarang terjadi di sepak bola modern. Situasi ini memunculkan dua spekulasi besar: ego superstar atau manuver strategis untuk pergi.
Sebagian menilai Ronaldo, sebagai ikon global, merasa kontribusi dan nilai komersialnya layak dibalas dengan dukungan kompetitif yang lebih serius.
Dugaan keberpihakan PIF pada klub lain bisa dianggap sebagai bentuk pengabaian, sehingga ketidakhadirannya menjadi alat tekanan.
Sementara spekulasi lain menyebut CR7 mulai jenuh dengan atmosfer sepak bola Saudi. Tantangan profesional yang tak lagi sejalan dengan ambisi gelar disebut menjadi alasan tersembunyi, dan absennya Ronaldo bisa menjadi jalan halus menuju kepindahan ke liga yang lebih kompetitif.
Dengan rencana Liga Pro Saudi membidik nama-nama besar seperti Mohamed Salah, Bruno Fernandes, hingga Robert Lewandowski pada musim panas 2026, masa depan Ronaldo di Timur Tengah pun kian menjadi tanda tanya.

