Banyak warganet yang membandingkan situasi ini dengan adegan dalam film The Hunger Games atau gaya hidup Marie Antoinette yang legendaris.
Akun @Stakof (Rumail Abbas) dengan tajam mengkritik, “Presiden kita menyaksikan orang miskin makan makanan mereka. Dia menonton dari tempat yang mewah, piringnya sendiri ditumpuk dengan makanan mahal. Kemiskinan sebagai hiburan malam.”
Kemarahan publik semakin memuncak ketika akun @sightsavior menuliskan reaksi sarkastik, “Menyaksikan orang miskin makan apa pun yang bisa mereka makan saat mereka makan malam yang mewah. Sial, kembalikan guillotine.”
Komentar ini menjadi representasi dari rasa frustrasi masyarakat terhadap ketidaksetaraan Indonesia yang semakin menganga.
Isu ini juga menjadi bumerang bagi program makanan bergizi gratis yang sedang digalakkan.
Di tengah sorotan miring ini, program tersebut justru sedang dihantui berbagai skandal, mulai dari kasus keracunan makanan hingga penyelidikan dugaan korupsi. Hal ini membuat narasi kemiskinan sebagai hiburan semakin sulit dibantah oleh pihak istana.
Fakta bahwa ketidaksetaraan Indonesia masih menjadi PR besar semakin menyulut emosi publik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih tercatat sekitar 38 juta jiwa, meskipun negara ini dikaruniai sumber daya alam yang melimpah.

