KITAINDONESIASATU.COM – Ebeg Banyumasan merupakan salah satu kesenian budaya khas wilayah Kabupaten Banyumas.
Ebeg Banyumasan termasuk dalam seni tari tradisional yang dalam pelaksanaannya diiringi oleh gamelan atau calung.
Dengan jumlah penari 6-20 orang bahkan lebih, Ebeg seringkali diselenggarakan di lapangan terbuka sebagai hiburan untuk masyarakat lokal.
Kesenian Ebeg menceritakan tentang kisah ksatria yang berlatih perang, dalam hal ini adalah Pangeran Diponegoro.
Tarian yang ditunjukkan dalam kesenian Ebeg melambangkan dukungan rakyat kepada Pangeran Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda.
Adapun dalam pementasannya, Ebeg terbagi menjadi beberapa pembabakan, di antaranya fragmen buto lawas (dua kali), fragmen senterewe, dan fragmen begon putri.
Babak pertunjukkan ebeg dimulai dari tarian, janturan, dan gapetan yang dipandu oleh seorang dalang/Penimbul.
Saat janturan, para pemain tari akan kesurupan roh (indhang) atau sering disebut mendem.
Kemudian, proses mengembalikan kesadarannya kembali dilakukan oleh sang dalang atau dikenal Penimbul.
Pada dasarnya, meskipun tidak membutuhkan koreografi yang sulit, tetapi kesenian Ebeg ini memerlukan gerakan yang selaras.

Oleh sebab itu, para pemain Ebeg diharuskan untuk selalu kompak satu sama lain, terutama dalam mengikuti ritme musik.
Beberapa lagu yang biasa dinyanyikan dalam pertunjukkan Ebeg adalah Eling-Eling, Sekar Gadung, Ricik-Ricik Banyumasan, Tole-Tole, Waru Doyoung, dan lain sebagainya.
Apa Perbedaan Ebeg Banyumasan dengan Kuda Lumping?
Kesenian Ebeg Banyumasan memang sering disalahpahami dengan pertunjukkan Kuda Lumping.
Meskipun seni pementasannya hampir sama, tetapi kedua kesenian tersebut sejatinya memiliki perbedaan.
Walau tidak terlalu signifikan, tetapi properti kuda yang digunakan oleh pemain Ebeg umumnya lebih mini dibandingkan Kuda Lumping.
Dari segi pakaian busananya pun Ebeg Banyumas lebih sederhana daripada Kuda Lumping yang cenderung lebih ramai, khususnya di bagian dada.
Di samping itu, saat proses kesurupan, dalam pertunjukkan Kuda Lumping hanya melibatkan pemain saja.
Namun, dalam pementasan Ebeg, kesurupan juga bisa dialami oleh penonton, sehingga acaranya cenderung lebih ramai dan meriah,
Hal-hal tersebut menjadi ciri khas Ebeg Banyumasan dibandingkan kesenian Kuda Lumping di daerah lain.
Penting diketahui, Ebeg Banyumasan merupakan kesenian asli Kabupaten Banyumas tanpa adanya campur tangan dan pengaruh dari budaya lain.
Kesenian Ebeg Banyumasan ini wajib dilestarikan dan dijaga dengan baik agar tetap menjadi warisan budaya, khususnya bagi masyarakat lokal. ***

