KITAINDONESIASATU.COM- Dorongan menuju ekonomi hijau menemukan momentumnya di kawasan transmigrasi. Di tengah tantangan pendapatan awal yang rendah serta kecenderungan sebagian transmigran meninggalkan lahannya karena masa tunggu komoditas yang panjang, muncul satu model pertanian yang dinilai mampu menjawab persoalan finansial dan lingkungan sekaligus: kombinasi tanaman kopi dan durian.
Pola agroforestri ini disebut bukan hanya memberikan pendapatan paling tinggi bagi masyarakat, tetapi juga menyumbang signifikan terhadap pembangunan rendah karbon.
Pandangan itu disampaikan Prof A Faroby Falatehan, Guru Besar IPB University bidang Kebijakan Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Berkelanjutan. Ia menyoroti persoalan klasik yang kerap menghantui transmigran, terutama pada tahun-tahun awal masa tanam ketika komoditas perkebunan seperti kopi dan durian belum memasuki fase produksi.
“Biasanya masyarakat itu akan menanam tanaman-tanaman yang cepat tumbuhnya, seperti hortikultura ataupun tanaman pangan. Jadi mereka bisa mendapatkan uang sekitar satu tahun,” ujarnya, Senin 1 Desember 2025.
Prof Faroby mencontohkan kawasan transmigrasi di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, yang telah mengembangkan model corporate farming kopi seluas 100 hektare.
Namun, menurutnya, ketergantungan pada monokultur kopi menyimpan risiko karena fluktuasi harga serta masa tunggu panen yang panjang.
“Di lapangan, ada masyarakat yang beralih ke sawit karena merasa lebih menguntungkan dibanding kopi. Monokultur membuat pendapatan bergantung pada satu komoditas,” katanya.
Kopi-Durian: Model Agroforestri Paling Menguntungkan
Melalui kajian analisis kelayakan finansial, Prof Faroby menunjukkan bahwa sistem agroforestri kopi-durian memiliki nilai ekonomi tertinggi dibanding model lainnya. Skema ini menghasilkan net present value (NPV) sekitar Rp1 miliar, benefit-cost ratio (BCR) lebih dari 11, dan internal rate of return (IRR) mencapai 39 persen.
Angka tersebut jauh di atas monokultur kopi yang hanya mencatat NPV sekitar Rp218 juta.
“Agroforestri memberikan pendapatan ganda, menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, dan meningkatkan penyerapan karbon. Model kopi dan durian menjadi yang terbaik baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,” tegas dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University ini.
Dari aspek lingkungan, kombinasi kopi-durian terbukti mampu menyerap emisi karbon lebih tinggi. “Sistem agroforestri pada lahan 100 hektare mampu menyerap 9.938 ton CO₂e dalam 20 tahun. Ini mendukung target penurunan emisi nasional,” ujarnya.
Nilai pengurangan emisi tersebut juga berpotensi masuk ke dalam skema perdagangan karbon melalui voluntary carbon market (VCM), meski implementasinya memerlukan dukungan tenaga ahli, lembaga sertifikasi, dan tata kelola yang kuat.
Butuh Kelembagaan yang Kuat
Prof Faroby menekankan bahwa keberhasilan model agroforestri tidak hanya ditentukan oleh jenis tanaman, tetapi juga oleh penguatan kelembagaan transmigrasi. Ia mengusulkan pembentukan BUMTrans dan konsorsium sebagai agregator karbon, pusat monitoring–reporting–verification (MRV) digital, serta fasilitator kemitraan nasional maupun internasional.
“Kesimpulannya, keunggulan finansial agroforestri jauh lebih tinggi dibanding monokultur. Pendekatan ini juga signifikan bagi ekonomi karbon dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Prof Faroby menyampaikan pesan reflektif mengenai masa depan transmigrasi. “Ketika transmigran menanam kopi dan durian, mereka sesungguhnya sedang menanam masa depan Indonesia, masa depan yang hijau, tangguh, dan berkeadilan ekologis. Transmigrasi bukan bab lama sejarah pembangunan Indonesia, melainkan bab baru peradaban hijau bangsa.” (Nicko)
