Fenomena Monsun Asia yang menguat, ditambah seruakan udara dingin dari daratan Asia, juga meningkatkan kecepatan angin dan suplai uap air di wilayah selatan khatulistiwa.
Pada saat yang sama, aktivitas MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Kelvin memperkuat proses konvektif di atmosfer.
Kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer menciptakan kondisi labil yang mendukung pembentukan awan hujan skala lokal.
Kombinasi faktor ini menyebabkan potensi hujan lebat, kilat, dan angin kencang muncul secara bergantian di berbagai wilayah.
BMKG memprakirakan puncak potensi cuaca ekstrem terjadi secara bertahap sejak 21 Januari hingga 26 Januari 2026, terutama di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
Masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas harian dan tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca yang bersifat dinamis.***


