KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah dinamika modernitas tahun 2026, kecintaan umat terhadap sosok KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, atau yang akrab disapa Guru Sekumpul, tetap tidak pernah pudar. Meskipun beliau telah wafat pada tahun 2005, pengaruh spiritual dan cahaya kewaliannya justru terasa semakin kuat, menyatukan jutaan umat dalam agenda tahunan Haul yang selalu menjadi ritual religi terbesar di Asia Tenggara.
Guru Sekumpul bukan sekadar ulama intelektual; beliau adalah prototipe dari “Wali Allah” yang menyatukan kedalaman ilmu syariat dengan kelembutan akhlak mulia. Wajah beliau yang teduh dan suara merdunya saat melantunkan selawat telah menjadi penyejuk hati bagi lintas generasi.
Banyak jamaah meyakini bahwa beliau memiliki karomah (kemuliaan) yang luar biasa, mulai dari kemampuan membaca mata hati hingga doa yang mustajab, yang semua itu merupakan buah dari ketaatannya yang mutlak kepada Allah SWT dan kecintaannya yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.
KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul, merupakan salah satu ulama paling berpengaruh dan kharismatik di Nusantara, khususnya di tanah Kalimantan. Beliau lahir pada Rabu, 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 H) di Desa Tunggul Irang, Martapura, dan wafat pada 10 Agustus 2005.
Silsilah dan Masa Kecil
Guru Sekumpul lahir dari pasangan kiai Abdul Ghani bin Abdul Manaf dan Hj. Masliah binti H. Mulia. Dari garis ayah, silsilah beliau bersambung langsung hingga ke ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan). Sejak kecil, beliau dididik dalam lingkungan yang sangat religius. Ayah dan pamannya, KH Semman Mulia, berperan besar dalam membentuk karakter dan dasar ilmu agama beliau.
Pendidikan formal beliau ditempuh di Madrasah Darussalam Martapura. Namun, kedalaman ilmu beliau didapat dari belajar secara talaqqi kepada puluhan ulama besar, baik di dalam negeri maupun di Makkah. Beberapa guru utama beliau antara lain:
- KH Semman Mulia (paman sekaligus guru spiritual utama).
- KH Syarwani Abdan (Bangil).
- Sayyid Muhammad Amin Kutbi (Makkah).
- Kiai Falak (Bogor).
Beliau dikenal sebagai ulama yang mahir dalam ilmu syariat (fikih), alat (nahwu-sharaf), hingga puncaknya pada ilmu tasawuf.
Sekitar tahun 1980-an, beliau pindah dari Keraton ke wilayah Sekumpul. Di sana, beliau membangun Musholla Ar-Raudhah. Tempat ini kemudian menjadi pusat spiritualitas yang menarik ribuan, bahkan jutaan jamaah setiap minggunya. Melalui pembacaan selawat Simthud Durar dan kajian kitab-kitab klasik (kitab kuning), beliau berhasil menghidupkan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.
Wafat dan Warisan Spiritual
Setelah berjuang melawan penyakit ginjal, Abah Guru Sekumpul wafat pada usia 63 tahun di kediamannya. Prosesi pemakaman beliau menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Hingga kini, kompleks makamnya di Sekumpul tidak pernah sepi dari peziarah.
Warisan terbesar beliau bukanlah harta, melainkan ribuan murid, rekaman kajian yang masih diputar hingga kini, serta tradisi Haul Sekumpul yang menjadi acara keagamaan terbesar di Asia Tenggara, melambangkan betapa dalamnya cinta umat kepada sosok beliau yang penuh kasih sayang dan rendah hati.(*)

