KITAINDONESIASATU.COM – Puasa Nabi Idris, mungkin banyak yang asing mendengar puasa ini. Puasa ini termasuk puasa sunah, artinya tidak wajib dikerjakan dan tidak berdosa jika tidak dijalankan. Puasa ini menjadi sorotan publik setelah Ustaz Maulana, seorang pendakwah kondang, diketahui rutin menjalankannya sudah lima tahun, dan sampai saat ini masih dijalankannya.
Ustaz Maulana rutin menjalankan puasa Nabi Idris sejak sang istrinya meninggal dunia pada 2019 silam. Ia berpuasa ingin memperkuat kedekatanya kepada Allah SWT, juga sebagai upaya untuk menahan diri dari hawa nafsu. Ini karena ia belum memikirkan untuk menikah Kembali, dan saat ini fokus membesarkan anak-anaknya.
Nabi Idris AS dikenal sebagai nabi yang cerdas, ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan memiliki amalan ibadah yang luar biasa. Selama hidupnya ia tetap konsisten menjalankan puasa, kecuali hari-hari yang diharamkanoleh Allah SWT, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha atau total selama empat hari.
Puasa Dahr tau puasa yang dilakukan setiap hari tanpa jeda ini adalah tidak wajib. Kendati begitu Nabi Idris tetap semangat menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk wujud Syukur dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Tak hanya itu saja, pada malam harinya ia menghabiskan waktunya untuk beribadah sholat hingga waktu subuh tiba.
Hukum puasa atau secara syariat tidak tertulis secara eksplitis dalam Al-Qur’an maupun hadis yang diajarkan Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam. Akan tetapi, Nabi Idris menjalankan ibadah puasa dahr ini sebagai bentuk kedekatan spritualnya dengan Allah SWT.
Kendati begitu, Nabi Idris tidak melupakan menjalankan ibadah sunah-sunah lainnya yang disunnahkan Nabi Muhammad SAW, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa di bulan Ramadan, Sya’ban, Rajab, dan Dzulhijjah.
Hikmah yang terkandung dalam puasa yang dilakukan Nabi Idris, di antaranya mengendalikan hawa nafsu, menahan diri dari makan, minum, meninggalkan maksiat, dan melatih disiplin diri, serta membentuk kesabaran.
Hikmah lainnya, lebih mendekatkan kepada Allah SWT dengan melakukan amalan-amalan berupa zikir, sholat, dan ibadah-ibadah lainnya. (*)

